Suasana Workshop Ekoteologi ‘Aisyiyah Sulsel.
Fajar.co.id, Makassar – Sebanyak 160 pendidik dari seluruh Sulawesi Selatan berkumpul di Ballroom Lantai I Makassar Government Centre.
Mereka hadir dalam sebuah workshop yang digelar PW 'Aisyiyah Sulsel bersama IGABA dan IGASI.
Acara ini bertujuan memasukkan nilai-nilai ekoteologi—pelestarian alam yang berlandaskan spiritual—ke dalam kurikulum pendidikan dasar mereka.
Mengubah Pola Pikir, dari Teori ke Aksi Nyata
Prof. Dr. Hj. Lu’mu Taris, M.Pd, selaku Ketua Majelis PAUD Dasmen PW 'Aisyiyah Sulsel, menegaskan bahwa ini bukan sekadar program biasa.
Workshop tahunan ini adalah upaya serius untuk meningkatkan kemampuan guru. Tujuannya jelas: menanamkan kesadaran lingkungan yang berakar pada nilai-nilai keimanan sejak usia dini.
“Alhamdulilah peserta yang hadir 160 peserta se-sulsel, dari perwakilan satuan pendidikan mulai jenjang TK/Paud, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA,” ungkapnya melalui keterangan tertulis yang diterima fajar.co.id, Rabu (11/2/2026).
Menurut guru besar UNM ini, langkah ini strategis. Ia ingin anak-anak tak cuma diajari menyayangi tanaman secara mekanis, tapi paham bahwa menjaga bumi adalah bentuk ibadah.
“Dengan mengintegrasikan ekoteologi yang memandang pelestarian alam sebagai bagian dari ibadah dan amanah sebagai khalifah fil ardh—anak didik di PAUD Aisyiyah tidak hanya diajarkan untuk menyayangi tanaman atau membuang sampah pada tempatnya secara mekanis, tetapi juga memahami bahwa menjaga kelestarian bumi adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Melalui integrasi kurikulum ini, pendidikan karakter religius dan etika lingkungan dapat berjalan beriringan guna membentuk generasi yang memiliki kecerdasan ekologis sekaligus spiritual yang kuat,” tuturnya.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































