Tragedi Siswa SD di Ngada NTT, Palpasi Soroti Kegagalan Sistem Pendidikan dan Perlindungan Anak di Daerah Rentan

9 hours ago 7
Kuburan siswa berinisial YBR yang tewas gantung diri.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berinisial YBR (10) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, kembali membuka luka lama tentang ketimpangan akses pendidikan dan lemahnya perlindungan anak di wilayah rentan. Pemuda Peduli Pendidikan dan Demokrasi (Palpasi) menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa gantung diri yang menimpa siswa kelas IV tersebut, yang diduga dipicu tekanan ekonomi keluarga terkait kebutuhan sekolah.

Kepala Bidang Hubungan Antar Lembaga Palpasi, Lintang Ayu Taufiqoh, menilai kehilangan satu nyawa anak bangsa bukan persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan santunan atau bantuan materi. Menurutnya, peristiwa ini mencerminkan kegagalan sistemik yang telah berlangsung lama dan belum ditangani secara menyeluruh.

"Peristiwa meninggalnya anak berusia 10 tahun ini menjadi tragedi yang sangat memilukan. Kejadian ini bukan sekadar kisah duka sebuah keluarga, tetapi menjadi cermin yang memperlihatkan bahwa masih terdapat kegagalan sistemik sejak dari pondasi," ucapnya.

Lintang menegaskan, ketika seorang anak harus menghadapi tekanan karena kebutuhan dasar pendidikan tidak terpenuhi, maka masalah tersebut tidak lagi semata-mata soal kemiskinan. Situasi itu, kata dia, menunjukkan rapuhnya ekosistem perlindungan anak, belum meratanya akses pendidikan, serta lemahnya ketahanan sosial keluarga di daerah tertinggal.

"Kasus ini menunjukkan betapa rentannya masyarakat yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Di sisi lain, hal ini juga menjadi refleksi atas pentingnya pendidikan karakter dan kesehatan mental anak yang seringkali belum menjadi perhatian Utama," ucapnya.

Palpasi menilai tragedi ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk meninjau ulang prioritas kebijakan pendidikan, khususnya terkait pengalokasian anggaran dan praktik di lapangan. Menurut Lintang, daerah-daerah tertinggal dan rentan sering kali masih menjadi titik lemah dalam implementasi kebijakan pendidikan yang seharusnya inklusif dan berkeadilan.

"Tragedi ini seharusnya tidak hanya menjadi bahan evaluasi bagi satu atau dua pihak saja. Ini adalah panggilan refleksi bagi seluruh elemen bangsa ; pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, hingga individu. Kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui empati sesaat, tetapi harus diterjemahkan menjadi komitmen nyata dalam memperkuat sistem perlindungan anak dan pemerataan akses Pendidikan," ucapnya.

Ia menambahkan, negara tidak boleh membiarkan anak-anak di wilayah rentan merasa berjuang sendirian menghadapi keterbatasan hidup. Menurutnya, tanggung jawab moral negara dan masyarakat adalah memastikan setiap anak memiliki ruang aman untuk tumbuh dan belajar tanpa beban kegagalan sistem.

"Negara dan masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa harus terbebani oleh kegagalan sistem yang seharusnya melindungi mereka," pungkasnya.

Sebelumnya, kasus ini bermula dari peristiwa memilukan ketika YBR, siswa kelas IV SD negeri di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri. Dugaan awal menyebutkan, motif tindakan ekstrem tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan orang tua memenuhi kebutuhan sekolah sederhana seperti buku tulis dan pulpen.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |