Tambang, Legalisme Buta dan Luka di Perut Bumi

1 day ago 9

Oleh : Mustamin Raga
(Pengamat Sosial-Politik)

Perut bumi Indonesia memang kaya raya.
Begitu kaya hingga manusia tergoda untuk terus menggali, bahkan ketika bumi sudah berteriak kesakitan. Setiap lapisan tanah, setiap bongkah batu, setiap tetes minyak, seolah menyimpan janji tentang kemewahan dan kekuasaan.

Negeri ini seakan berdiri di atas harta karun yang tak pernah habis, namun anehnya, kemiskinan justru tumbuh di atas tanah yang kaya itu. Dari Sabang sampai Merauke, bumi Nusantara seperti perempuan tua yang tubuhnya terus diiris-iris untuk mempercantik rumah orang lain. Di atasnya tumbuh pabrik-pabrik, pelabuhan, dan deretan alat berat yang tak kenal jeda. Di bawahnya, urat-urat bumi mengucurkan nikel, batubara, emas, tembaga, dan hasil tambang lainnya yang katanya untuk pembangunan. Tetapi entah pembangunan untuk siapa.

Pemerintah sering gagap di hadapan kekayaan itu. Bukan karena tidak tahu cara mengatur, melainkan karena terlalu banyak tangan yang ingin ikut mengatur. Setiap peraturan menjadi ladang negosiasi, setiap izin menjadi komoditas baru yang diperdagangkan di balik meja kekuasaan.
Dan dari kekacauan moral itulah lahir dua wajah dari satu rahim yang sama:
tambang legal dan tambang illegal.
Yang satu dijaga aparat, yang satu diburu.
Yang satu disebut sah, yang lain dianggap kriminal. Padahal sering kali keduanya melakukan hal yang sama: menggali isi bumi. Yang membedakan hanyalah selembar kertas dan tanda tangan berharga miliaran rupiah.

Namun mari kita bertanya jujur kepada diri sendiri: Apa arti kata “illegal” dalam situasi hari ini? Apakah illegal berarti tidak punya izin dari negara, atau tidak punya izin dari hati nurani? Sebab di banyak tempat,
tambang yang disebut legal justru menjadi sumber kerusakan paling permanen.Gunung-gunung dikupas hingga botak, hutan-hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia hilang tanpa jejak, sungai-sungai yang dulu jernih berubah menjadi saluran limbah. Dan yang tersisa hanyalah luka ekologis yang tidak akan sembuh selama berabad-abad.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |