Presiden Direktur Agung Sedayu Group, Nono Sampono
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia disebut memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi pusat industri halal dunia. Namun, hingga kini, negeri dengan populasi Muslim terbesar itu masih lebih sering berperan sebagai konsumen.
Hal tersebut ditegaskan Presiden Direktur Agung Sedayu Group, Nono Sampono, dalam International Seminar on Sharia Economics (ISSE) 2026 di Marketing Gallery PIK 2, Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Di hadapan akademisi, regulator, dan pelaku industri, ia mengungkap ironi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan halal dari luar negeri.
“Bayangkan, hampir 300 ribu jamaah haji dan hampir 2 juta jamaah umrah kita. Berasnya dari Thailand dan Vietnam. Daging dan ayamnya dari Brasil. Ini tantangan besar bagi kita,” tegas Nono di hadapan akademisi, regulator, dan pelaku industri.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak sejalan dengan posisi Indonesia yang masuk 10 besar ekonomi syariah global. Ia bahkan mencontohkan Brasil, negara dengan populasi Muslim di bawah satu persen, namun mampu menjadi eksportir utama produk daging halal ke pasar Timur Tengah.
“Kalau negara minoritas Muslim saja bisa, mengapa kita yang mayoritas tidak?” ujarnya.
Integrasi Ekonomi Syariah dan SDGs
Dalam seminar bertema Harmonization of Sharia Economic Principles and Sustainable Development Goals (SDGs), Nono menekankan bahwa ekonomi syariah bukan sekadar label, melainkan sistem nilai yang sejalan dengan 17 tujuan pembangunan global.
Instrumen seperti zakat produktif, wakaf sosial, hingga green sukuk dinilai mampu menjadi sumber pembiayaan alternatif yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan inklusi ekonomi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































