Pakar Komunikasi Universitas Airlangga, Henri Subiakto
FAJAR.CO.ID,JAKARTA — Pakar komunikasi dari Universitas Airlangga, Henry Subiakto, menyoroti kondisi ekonomi Indonesia yang dinilainya semakin tertekan. Ia mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap belum menunjukkan efisiensi di tengah situasi tersebut.
“Keadaan ekonomi kita makin memburuk,” tulis Henry, dikutip dari unggahannya di X, Rabu (18/3/2026)
Dia menyebut pembatasan pembelian dolar AS mulai April sebagai salah satu dampak melemahnya rupiah. Menurutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami tekanan. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya beban ekonomi nasional.
Henry juga menyinggung utang negara yang terus bertambah. Selain itu, defisit anggaran disebut semakin melebar.
Ia menilai tekanan ekonomi semakin berat dengan naiknya harga minyak dunia. Saat ini harga minyak disebut telah menembus di atas 100 dolar AS per barel.
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok. Masyarakat disebut ikut merasakan tekanan akibat lonjakan harga.
“Harga-harga kebutuhan pokok naik. Ekonomi Indonesia tertekan,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Henry mempertanyakan sikap pemerintah. Ia menilai kebijakan yang tidak efisien justru masih terus berjalan.
“Tapi inefisiensi pemerintah kok jalan terus,” tegasnya.
Salah satu yang disorot adalah anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut alokasi anggaran tahun 2026 mencapai Rp335 triliun.
Menurutnya, program tersebut belum menunjukkan evaluasi yang jelas. Padahal anggarannya sangat besar. Henry juga menyinggung kewajiban pembayaran keanggotaan internasional.















































