Menyambut Ramadan dengan Tubuh yang Suci, Ini Penjelasan Terkait Mandi Wajib dan Sunnah bagi Umat Islam

2 hours ago 4
Ilustrasi malam Ramadan

Fajar.co.id, Jakarta -- Menjelang bulan suci Ramadhan 2026, banyak umat Muslim bersiap dengan tradisi mandi atau bersuci. Ritual ini bukan cuma soal kebersihan fisik, tapi lebih pada persiapan batin menyongsong ibadah puasa.

Lantas, bagaimana sebenarnya tuntunan syariat tentang mandi sebelum Ramadhan? Artikel ini akan mengupas niat, tata cara, serta perbedaan antara mandi wajib dan sunnah berdasarkan kondisi masing-masing orang.

Dua Jenis Mandi: Wajib dan Sunnah

Pertama-tama, kita perlu bedakan dulu. Mandi sebelum puasa itu terbagi dua. Ada yang hukumnya wajib, khusus buat mereka yang lagi berhadas besar—sehabis junub, haid, atau nifas—dan belum sempat bersuci saat fajar Ramadhan hampir tiba. Di sisi lain, ada juga mandi sunnah. Ini boleh dilakukan siapa saja yang pengin menyambut bulan penuh berkah dengan kondisi lahiriah yang lebih bersih, meski lagi nggak berhadas.

Nah, keduanya punya bacaan niat yang beda. Memahami perbedaan ini penting banget. Biar ibadah kita nggak cuma asal jalan, tapi juga sah secara syariat. Intinya, mandi wajib itu keharusan, sementara mandi sunnah lebih ke anjuran dan keutamaan aja.

Landasan Syariat: Dari Hadis hingga Praktik Nabi

Memangnya ada anjurannya? Secara syariat, mandi wajib ya wajib dilakukan kalau seseorang lagi dalam keadaan hadas besar. Itu sudah ketentuan tetap. Tapi, khusus untuk konteks menyambut Ramadhan, ada riwayat yang jadi acuan.

Dari Aisyah dan Ummu Salamah RA, disebutkan Rasulullah SAW pernah memasuki waktu fajar dalam keadaan junub. Lalu beliau mandi dan tetap menyempurnakan puasanya.

“Riwayat lain dari Ibnu Majah juga menegaskan hal serupa,” jelasnya. Nabi SAW mandi besar karena bersetubuh, bukan karena mimpi basah, namun tetap melanjutkan puasanya hingga sempurna.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |