Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI)
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Galeri Budaya Tionghoa Indonesia (GBTI) tidak dibangun untuk menonjolkan perbedaan, melainkan untuk memperlihatkan keterhubungan.
Melalui pendekatan kuratorial yang dekat dengan pengalaman sehari-hari, museum ini mengajak publik memahami bahwa perjalanan komunitas Tionghoa merupakan bagian dari perjalanan Indonesia itu sendiri.
Kurator GBTI Bob Edrian menegaskan bahwa pesan tersebut menjadi benang merah dari seluruh ruang pamer yang ada.
“Pesan utamanya adalah bagaimana pada akhirnya komunitas Tionghoa harus dipahami sebagai bagian dari Indonesia,” ujarnya.
Pesan itu disampaikan melalui berbagai lapisan narasi. Salah satunya di Ruang Kesaksian, area kedua dalam pameran permanen, yang mempertemukan arsip foto dengan video dokumentasi dan wawancara.
“Di Ruang Kesaksian, pengunjung akan melihat arsip foto yang berdampingan dengan video dokumentasi. Arsip-arsip ini kami kumpulkan dari berbagai lembaga kearsipan, termasuk lembaga negara, institusi militer, dan universitas,” kata Bob.
Menurutnya, arsip-arsip tersebut dipilih untuk menunjukkan bagaimana masyarakat Tionghoa terlibat dalam kehidupan sosial Indonesia. Peran itu tampak dalam berbagai bidang, mulai dari ekonomi hingga pendidikan.
“Kami memilih foto-foto tersebut berdasarkan beberapa aspek, seperti peran masyarakat Tionghoa dalam bidang ekonomi, pemerintahan, dan pendidikan. Semua itu menunjukkan bagaimana komunitas Tionghoa hadir, berinteraksi, dan kemudian berbaur dalam masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Agar cerita yang disampaikan tidak bersifat tunggal, arsip visual dilengkapi dengan video dokumentasi yang merekam ingatan kolektif lintas generasi.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































