FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Sulawesi Selatan (Sulsel) justru menunjukkan tren yang semakin solid. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel mencatat, pertumbuhan ekonomi Sulsel sepanjang 2025 mencapai 5,43 persen (c-to-c), meningkat dibandingkan 2024 yang berada di angka 5,31 persen.
Capaian ini dinilai menjadi sinyal positif bahwa arah kebijakan pembangunan daerah mulai memberikan dampak nyata, tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penurunan angka kemiskinan.
Pengamat: Ekonomi Sulsel Makin Matang
Pakar Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. H. Marsuki, DEA, Ph.D, menilai kinerja ekonomi Sulsel menunjukkan proses transformasi yang semakin matang dan terintegrasi.
“Data BPS terbaru menunjukkan ekonomi Sulsel mampu bertahan dan tumbuh di tengah membuncahnya ketidakpastian ekonomi global. Ini indikasi positif bahwa fondasi ekonomi daerah cukup kuat,” kata Prof Marsuki, Jumat (6/2/2026).
Ia menilai kebijakan prioritas Pemerintah Provinsi Sulsel di bawah kepemimpinan Gubernur Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi mulai terlihat hasilnya, terutama melalui program Multi Years Project (MYP) senilai Rp3,7 triliun yang dilaksanakan bersama pemerintah kabupaten/kota.
Infrastruktur, Kesehatan, dan Pendidikan Jadi Penopang
Menurut Prof Marsuki, dampak kebijakan tersebut terlihat jelas pada:
- Peningkatan konektivitas infrastruktur jalan lintas daerah
- Penguatan layanan kesehatan
- Perbaikan kualitas sektor pendidikan
“Dampaknya cukup luas terhadap perbaikan indikator makro ekonomi Sulsel,” ujarnya.
Pertanian Masih Dominan, Tapi Lebih Bernilai Tambah
Meski sektor pertanian dalam arti luas masih menjadi tulang punggung ekonomi Sulsel dengan kontribusi sekitar 23 persen, wajah sektor ini dinilai telah berubah.
Program hilirisasi membuat komoditas seperti padi, rumput laut, hingga hasil tambang tidak lagi dijual mentah, melainkan diolah sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Penggunaan bibit unggul dan teknologi pertanian, khususnya pada komoditas padi dan jagung, juga mendorong peningkatan produktivitas dan pendapatan petani.
Sektor Jasa Jadi Motor Baru
Selain sektor primer, sektor jasa kini dinilai semakin dominan, bahkan menjadi penentu pertumbuhan ekonomi Sulsel pada 2025.Peran Sulsel sebagai hub ekonomi Kawasan Timur Indonesia (KTI) mendorong pesatnya sektor transportasi, logistik, jasa keuangan, serta percepatan digitalisasi ekonomi, terutama bagi UMKM.
“Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh membaiknya konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, serta ekspor komoditas unggulan,” jelas Prof Marsuki.
Kemiskinan Turun Konsisten Enam Tahun
Seiring pertumbuhan ekonomi yang membaik, angka kemiskinan di Sulsel juga terus menurun secara konsisten dalam enam tahun terakhir.
BPS Sulsel mencatat, pada September 2025, persentase penduduk miskin Sulsel turun menjadi 7,43 persen atau sekitar 685,14 ribu jiwa, lebih rendah dibandingkan September 2024 yang masih berada di angka 8,06 persen.
Pasar Kerja dan Inflasi Jadi Faktor Penting
Penurunan kemiskinan ini dinilai sejalan dengan membaiknya pasar tenaga kerja. Tingkat pengangguran terbuka Sulsel turun dari 4,33 persen (2024) menjadi 4,21 persen (2025).
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
















































