Dinamika Perdagangan Makassar Abad Ke-19, Antara Persaingan dan Monopoli

4 days ago 12

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)

Pada abad ke-19, Makassar menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Nusantara. Sebagai pelabuhan strategis, kota ini menjadi persinggahan bagi pedagang dari Bugis, Mandar, Selayar, dan Buton yang menjalin hubungan dagang dengan berbagai wilayah, termasuk Singapura. Namun, perubahan kebijakan kolonial Belanda dan dominasi Inggris di Asia Tenggara mengubah wajah perdagangan di Makassar secara drastis.

Ketika ekonomi Belanda melemah akibat perang dengan Inggris dan pendudukan Prancis, Hindia Belanda belum sepenuhnya menguasai kepulauan Nusantara. Banyak kerajaan lokal yang tetap berdaulat dan memiliki otonomi dalam perdagangan.

Inggris, dengan prinsip perdagangan bebasnya, mendorong interaksi yang lebih luas antara pedagang Nusantara dan pasar internasional. Namun, Belanda berusaha mempertahankan kendali dengan berbagai kebijakan yang justru menekan aktivitas ekonomi lokal.

Pada tahun 1824, Traktat London mengubah peta kekuatan di kawasan ini. Inggris menyerahkan Malaka kepada Belanda, tetapi sebagai gantinya, perdagangan bebas harus diterapkan di beberapa pelabuhan Hindia Belanda, termasuk Makassar.

Sayangnya, meski Belanda secara resmi membuka pelabuhan, kebijakan mereka tetap mengekang. Pajak tinggi, monopoli rempah-rempah dan candu, serta pembatasan impor senjata membuat para pedagang lebih memilih berbisnis di Singapura yang berkembang pesat sebagai pusat perdagangan bebas.

Makassar menjadi saksi dari kegagalan "politik pintu terbuka" yang diterapkan Belanda. Banyak faktor yang berkontribusi pada kegagalan ini, termasuk pajak yang mencekik, larangan perdagangan senjata yang membatasi kekuatan kerajaan lokal, dan dominasi Belanda terhadap komoditas utama.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |