Waspada Inflasi Senyap yang Gerus Daya Beli, Efek Domino Kenaikan Harga Plastik

3 hours ago 5

FAJAR.CO.ID -- Kenaikan harga plastik mulai menekan pelaku usaha dan pedagang dan dikhawatirkan memicu efek domino terhadap inflasi. Ada potensi inflasi tersembunyi dan senyap yang rawan menggerus daya beli masyarakat.

Harga plastik terus naik pada beragam produk, mulai dari kantong kresek hingga kemasan makanan. Kondisi ini membuat biaya operasional pedagang ikut meningkat.

Tanpa disadari, kenaikan harga plastik sejak pecahnya konflik di Timur Tengah akibat tersendatnya bahan baku bijih plastik, tak hanya berdampak pada biaya produksi. Ukuran produk mulai mengecil tanpa diikuti penurunan harga.

Fenomena ini dikenal sebagai shrinkflation, inflasi tersembunyi yang diam-diam menggerus daya beli masyarakat.

Melansir laman umy.ac.id, Pakar Ekonomi Energi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dessy Rachmawatie menilai kenaikan harga plastik saat ini merupakan bagian dari fenomena cost-push inflation.

Menurut Dessy, fenomena tekanan inflasi disebabkan oleh meningkatnya biaya produksi, khususnya pada sektor berbasis energi.

"Plastik sebagai produk turunan petrokimia sangat bergantung pada sektor energi. Ketika harga minyak dunia meningkat, biaya produksinya ikut naik. Hal ini kemudian mendorong kenaikan harga secara lebih luas. Tidak hanya pada industri manufaktur, tetapi juga sektor lain yang memiliki keterkaitan,” jelas Dessy dilansir dari laman UMY Online, Rabu (15/4).

Selain faktor eksternal, Dessy juga menyoroti persoalan mendasar dalam struktur industri nasional, yakni tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik. Saat ini, sekitar 50 hingga 60 persen kebutuhan bahan baku masih dipenuhi dari luar negeri.

Ketergantungan tersebut membuat Indonesia rentan terhadap guncangan global. Setiap kenaikan harga di pasar internasional akan dengan cepat ditransmisikan ke dalam negeri tanpa banyak ruang untuk meredam dampaknya.

“Ketergantungan pada impor bahan baku industri membuat kita sangat mudah terdampak oleh fluktuasi global. Ketika harga plastik naik hingga 30–100 persen, ini bukan lagi sekadar isu sektoral, melainkan sudah berimplikasi pada stabilitas ekonomi secara lebih luas, termasuk daya beli masyarakat,” pungkas Dessy.

Inflasi Tersembunyi yang Luput dari Perhatian

Pendapat senada dikemukakan pengamat ekonomi dari Universitas Andalas, Syafruddin Karimi. Dia menilai ada fenomena shrinkflation yang sedang terjadi sebagai efek domino kenaikan harga plastik. Shrinkflation merupakan bentuk inflasi yang bekerja secara senyap dan kerap luput dari perhatian masyarakat.

Menurutnya, banyak orang mengira tekanan ekonomi hanya terjadi ketika harga barang naik secara terang-terangan. Padahal, beban hidup juga dapat meningkat ketika ukuran produk diperkecil sementara harga tetap dipertahankan.

"Banyak konsumen melihat label harga yang sama lalu merasa keadaan masih aman. Padahal nilai riil yang mereka terima sebenarnya sudah menurun," kata Syafruddin dilansir dari Disway, Kamis (16/4/2026).

Dampak dari terjadinya shrinkflation, jumlah uang yang dimiliki masyarakat tidak lagi mampu membeli barang dalam kuantitas yang sama seperti sebelumnya.

"Shrinkflation adalah bentuk inflasi tersembunyi yang bergerak pelan, tetapi dampaknya nyata dalam kehidupan rumah tangga," katanya.

Fenomena shrinkflation ini menjadi berbahaya karena memanfaatkan persepsi publik.

Alasannya, konsumen umumnya lebih cepat menyadari kenaikan harga dibanding perubahan berat, volume, atau jumlah isi produk.

Produsen kemudian memanfaatkan kondisi ini untuk menjaga harga nominal tetap terlihat stabil di mata konsumen.

"Strategi tersebut mungkin menguntungkan dari sisi pemasaran, tetapi bagi masyarakat hasil akhirnya tetap merugikan," ucap Syafruddin.

Akibatnya, keluarga harus membeli produk lebih sering untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Hal ini membuat pengeluaran rumah tangga meningkat secara perlahan.

Plastik Jadi Kebutuhan UMKM

Plastik nyaris sudah menjadi kebutuhan semua kalangan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ketika harga plastik melambung tinggi, dampaknya langsung dirasakan masyarakat.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 64 juta UMKM menyumbang sekitar 61% Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagian besar dari mereka sangat bergantung pada plastik sebagai bahan kemasan utama karena murah, praktis, dan mudah diperoleh.

Kenaikan harga plastik hingga dua kali lipat berarti peningkatan signifikan pada biaya produksi. Kondisi ini tentu saja berpotensi menaikkan harga jual produk. Jika fenomena ini terjadi secara luas, maka tekanan inflasi menjadi tidak terhindarkan.

Fenomena inflasi senyap akibat kenaikan harga plastik ini seharusnya menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera memperkuat fondasi industri nasional, khususnya pada sektor hulu berbasis petrokimia.

Penguatan kapasitas produksi dalam negeri penting untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap tekanan global.

Kenaikan harga plastik yang dipicu faktor global ini tidak hanya menjadi tantangan jangka pendek, tetapi juga menunjukkan perlunya transformasi struktural dalam perekonomian nasional agar lebih mandiri dan tahan terhadap gejolak eksternal.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat (NTB), Wahyudin, mengakui kontribusi plastik terhadap inflasi memang tidak sebesar komoditas pangan seperti cabai atau bawang. Namun, kenaikannya tetap memberi tekanan pada indeks harga konsumen.

Kenaikan harga plastik yang tak kunjung reda berdampak pada harga beberapa kebutuhan pokok (bapok). Pedagang mulai menaikkan harga jual untuk menjaga margin keuntungan sebagai efek domino kenaikan harga plastik. (*)

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |