Utang, Subsidi, dan MBG Kepung APBN 2026, Anthony Budiawan: Ruang Fiskal Menyempit

5 hours ago 4
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 disebut menghadapi tekanan yang semakin berat.

Sejumlah faktor mulai dari beban utang hingga potensi lonjakan harga minyak dunia membuat ruang fiskal pemerintah semakin sempit.

Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menyebut bahwa struktur fiskal Indonesia saat ini berada dalam posisi yang cukup mengkhawatirkan.

“Kondisi fiskal Indonesia tahun 2026 berada dalam posisi yang semakin sempit dan memprihatinkan. Defisit APBN 2026 dutetapkan Rp695 triliun atau sekitar 2,5 persen dari PDB,” ujar Anthony kepada fajar.co.id, Selasa (10/3/2026).

Dikatakan Anthony, meskipun angka defisit tersebut masih berada di bawah batas 3 persen PDB, tekanan terhadap struktur fiskal tetap semakin terasa.

Beban Bunga Utang Tembus Rp600 Triliun

Anthony menyebut salah satu sumber tekanan terbesar berasal dari kewajiban pembayaran bunga utang pemerintah yang terus meningkat.

“Salah satu sumber tekanan terbesar datang dari beban bunga utang pemerintah yang diperkirakan menembus Rp600 triliun,” tukasnya.

Ia menjelaskan, nilai tersebut setara dengan sekitar 19 persen dari total pendapatan negara atau sekitar 22 persen dari penerimaan perpajakan.

“Rasio tersebut sudah berada pada tingkat yang cukup tinggi, dan secara struktural mempersempit ruang fiskal pemerintah,” jelasnya.

Target Pendapatan Negara Dinilai Terlalu Optimistis

Dalam APBN 2026, pemerintah menargetkan total pendapatan negara sekitar Rp3.153 triliun.

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |