Tehran, Iran 1 Maret 2026. (Getty Images)
FAJAR.CO.ID - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke Iran, kali ini tanpa dukungan koalisi internasional yang biasanya menyertainya dalam konflik besar. Langkah ini menimbulkan kekhawatiran global akan potensi meluasnya ketegangan di Timur Tengah serta dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dunia.
Sekutu Barat Pilih Menjauh dari Konflik
Berbeda dengan perang-perang sebelumnya, seperti Perang Teluk 1991 dan Invasi Irak 2003 yang melibatkan puluhan negara, operasi militer terbaru ini lebih banyak dilakukan oleh Amerika Serikat bersama Israel. Negara-negara Eropa justru memilih sikap hati-hati dan menghindari keterlibatan langsung.
Beberapa pemerintah Eropa takut konflik dapat berubah menjadi perang regional yang lebih besar di kawasan yang sudah sarat ketegangan. Selain itu, risiko gangguan ekonomi menjadi faktor utama, mengingat posisi strategis Iran yang dekat dengan Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia.
Negara Timur Tengah Tak Ingin Jadi Target Balasan
Selain sekutu Barat, negara-negara di Timur Tengah juga mengambil sikap waspada. Mereka khawatir jika mendukung operasi militer Amerika Serikat secara terbuka, akan menjadi sasaran serangan balasan dari Iran.
Iran diketahui memiliki jaringan sekutu dan kelompok milisi yang tersebar di berbagai negara di kawasan, sehingga potensi perluasan konflik sangat besar.
Strategi Serangan Cepat Tanpa Koalisi
Pengamat menilai Washington sengaja memilih strategi operasi militer cepat tanpa menunggu terbentuknya koalisi internasional. Dengan kekuatan militer besar serta teknologi tempur canggih, Amerika Serikat dianggap mampu melaksanakan serangan secara mandiri.

















































