Oleh: Heru Sebagai
(Pengamat Politik dan Ekonomi)
Rismon Sianipar saat ini nama-Nya sedang nge-hit, mendadak menggusur isu perang Iran-Israel dan ancamannya terhadap ekonomi nasional. Gerakan dan sikap yang diambilnya 360 derajat telah mengelabuhi dan mencuri perhatian publik. Rismon berubah drastis dan sekaligus dramatis.
Bukan menyerang atau bahkan mencari keberadaan ijazah Jokowi 1000 persen palsu, namun Rismon dengan suara lantang tampa keraguan sedikit pun menyatakan jika ijazah Jokowi itu asli. Kemudian, tampa malu dan rasa bersalah ke publik, Rismon meminta maaf ke Jokowi dan Keluarganya yang selama ini dirugikan akibat serangan bertubi-tubi berkaitan Ijasah Palsu Jokowi dan juga Gibran.
Identitas Akademisi Menguap
Tindakan Rismon mengakui ijazah Jokowi secara mendadak betul-betul dianggap sudah menanggalkan dirinya sebagai intelektual dan akademisi. Rismon bahkan dikatakan Pahlawan kebenaran, sebelumnya dengan lantang dan percaya diri mengklaim sebagai akademisi atau peneliti.
Kehadirannya, Rismon menemui Jokowi untuk meminta maaf dan sekaligus mendeklarasikan ke teman seperjuangan seperti Roy Suryo atau Dr. Tifa untuk bertobat dan segera mengikuti langkahnya adalah kesalahan dan juga kecelakaan intelektual bagi seorang akademisi. Rismon tidak tunduk proses hukum yang sedang dijalankan, tidak sabar dan bahkan melawan dengan berupaya menghentikan proses hukum melalui jalur Restorasi Justise.
Konspirasi Politik
Dalam konteks kepentingan dan urgensi, penerimaan Rismon dan Gibran terhadapnya memiliki cakupan politik yang sangat rendah. Ini karena Rismon tidak terafiliasi dengan siapa pun yang mempunyai dampak elektoral terhadap kepentingan politik yang ada. Dalam kalkulator politik, Rismon sangat lemah untuk disebut sebagai tokoh berpengaruh.
















































