Jusuf Kalla
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Beredarnya potongan video ceramah Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla, di media sosial memicu polemik.
Video tersebut disertai narasi yang menuding adanya unsur penistaan terhadap ajaran Kekristenan.
Namun, pihak Jusuf Kalla membantah tudingan tersebut dan menyebut informasi yang beredar tidak utuh karena dipotong dari konteks aslinya.
Video Viral Picu Salah Tafsir
Potongan video yang beredar menampilkan pernyataan Jusuf Kalla terkait konflik Poso dan Ambon, khususnya mengenai istilah 'mati syahid' yang digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik.
Juru bicara Jusuf Kalla, Husain Abdullah, menjelaskan bahwa pernyataan tersebut tidak bisa dipahami secara terpisah dari konteks keseluruhan ceramah.
Dikatakan Husain, narasi yang berkembang di media sosial telah mengaburkan maksud sebenarnya dari pernyataan tersebut.
Penjelasan Soal Konteks Konflik
Husain menegaskan bahwa apa yang disampaikan Jusuf Kalla merujuk pada kondisi nyata di lapangan saat konflik sosial bernuansa agama terjadi.
"Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah," ujar Husain dikutip fajar.co.id, Senin (13/4/2026).
Kata dia, Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan 'perang suci'.
"(Mereka) mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid," tukasnya.
Ditegaskan Husain, hal tersebut merupakan fakta sejarah, karena baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA.


















































