Pigai: Teror ke Ketua BEM UGM Mustahil dari Pemerintah

3 hours ago 3
Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menegaskan bahwa teror yang dialami Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, tidak mungkin berasal dari pemerintah.

Klaim Teror Bukan dari Pemerintah

Pernyataan itu disampaikan Pigai dalam jumpa pers di Kantor Kementerian HAM, Jakarta, Jumat (20/2/2026) kemarin.

Ia merespons dugaan teror terhadap Tiyo dan keluarganya usai menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Dikatakan Pigai, Presiden Prabowo Subianto telah berulang kali menegaskan bahwa hukum tidak boleh dijadikan alat kekuasaan untuk membungkam hak asasi manusia maupun kepentingan politik tertentu.

Karena itu, ia meyakini pemerintah tidak mungkin melakukan intimidasi terhadap warga negaranya sendiri.

“Presiden sudah menegaskan hukum tidak boleh dipakai untuk kepentingan kekuasaan ataupun membungkam HAM,” ujar Pigai dikutip fajar.co.id pada Sabtu (21/2/2026).

Minta Kepolisian Mengusut Pelaku

Soal siapa dalang di balik teror tersebut, Pigai menganggap hal itu menjadi ranah aparat penegak hukum. Ia meminta kepolisian segera mengusut dan mengungkap pelaku.

Ia menekankan, kepolisian harus bekerja profesional agar kasus ini terang-benderang dan tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Pigai juga menyoroti materi kritik yang disampaikan Tiyo melalui surat kepada UNICEF.

Ia mempertanyakan bagian surat yang mengaitkan program makan bergizi gratis (MBG) dengan Pemilu 2029.

"Kok dia bisa kaitkan dengan pemilu 2029? Kok enggak tahu perasaan orang kecil yang membutuhkan makanan? Kenapa kaitkan pemilu 2029?," Pigai menuturkan.

Kritik bagian dari Demokrasi

Meski demikian, Pigai menegaskan bahwa kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dijamin oleh negara.

Hanya saja, menurutnya, kritik tetap harus disampaikan dengan etika.

"Kalau Anda menghina, tidak boleh. Bagi bangsa Indonesia, tidak etis. Kalau Anda kritik boleh, anytime (kapan pun) boleh kritik, bebas, negara kasih kesempatan memberi kritik. Kalau hina, jangan," tandasnya.

Kejadian kurang mengenakan dialami oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto.

Tiyo Ardianto mengaku mendapat teror setelah menyuarakan kasus anak bnh d*ri di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Teror yang dialaminya ini disebutnya sudah berlangsung dalam beberapa hari. Mulai dari 9-11 Februari lalu.

Teror-teror yang didapatkan oleh Tiyo itu berupa bentuk intimidasi, mulai dari ancaman melalui pesan singkat hingga dugaan penguntitan oleh orang tak dikenal.

“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ujar Tiyo dikutip Jumat (13/2).

Alami Penguntitan

Dalam teror yang didapatkannya, Tiyo menyebut dirinya mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2/2026) saat berada di sebuah kedai.

Menurutnya, dua pria tak dikenal dengan postur tubuh tegap terlihat memotret dirinya dari jarak jauh.

“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” tuturnya.

Setelah dikuntit beberapa lama oleh pihak yang tidak dikenal, ia mengaku coba mengejar orang-orang tersebut.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |