Ilustrasi meneduhkan panas negeri.
Oleh: Andi Muhammad Jufri
(Praktisi Pembangunan Sosial)
Jelang periode Mei - September, angin musom timur yang bertiup dari Australia akan membawa udara kering yang menyebabkan curah hujan rendah dan suhu udara cenderung panas. Periode musiman ini kita kenal sebagai musim kemarau. Banyak daerah rawan kekeringan dan kesulitan air bersih.
BMKG memprediksi musim kemarau 2026 akan lebih kering dan panjang (kering ekstrem) akibat potensi El Nino lemah-moderat, dengan puncak kemarau terjadi pada Juli-Agustus 2026. Beberapa wilayah rawan kekeringan dan krisis air bersih meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara (NTB/NTT), sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Semoga semua pihak, dapat terus memitigasi resiko kegagalan panen, kebakaran hutan, gangguan kesehatan masyarakat, dan tentu saja peningkatan kemiskinan. Usaha mitigasi dengan perbaikan irigasi, pembangunan waduk, reboisasi, penanaman varietas tanaman tahan kekeringan dan penghematan air, seharusnya telah dilakukan dan terus diperkuat dan dikembangkan oleh semua pihak.
Selain angin musom timur dari Australia, kita juga terterpa lebih awal angin panas dari perang AS & Israel vs Iran di Timur Tengah. Angin panas ini membawa keringnya pasokan minyak dari Timur Tengah. Ancaman krisis energi dalam negeri, akan mendongkrat biaya energi dan harga barang kebutuhan pokok masyarakat. Kondisi ini, menjadikan negeri rawan panas secara sosial.
Apalagi perang di Timur Tengah, semakin bereskalasi tinggi dan memunculkan ketidakpastian geopolitik. Investasi ekonomi terhambat dan perdagangan ekspor dan impor menjadi tidak stabil. Kondisi ini akan menekan keseimbangan moneter dalam negeri.


















































