Krisis Ojol Saat Ramadan 2026, Driver Lakukan Protes Diam karena Sistem Dinilai Tidak Adil

5 hours ago 4
Ilustrasi Ojol. (INT)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Keluhan masyarakat soal sulitnya memesan ojek online di Jakarta selama Ramadan 2026 belakangan ramai diperbincangkan.

Tidak sedikit pengguna mengaku kesulitan mendapatkan driver, baik untuk layanan roda dua maupun taksi online, terutama pada jam-jam sibuk.

Fenomena tersebut bahkan sampai dijuluki warganet sebagai “krisis ojol”. Namun di balik kondisi itu, kalangan pengemudi justru menyebut ada persoalan yang lebih mendasar.

Asosiasi ojek online Garda Indonesia menilai situasi ini bukan semata disebabkan meningkatnya permintaan atau karena banyak driver pulang kampung.

Bentuk Protes Driver

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, mengatakan sulitnya mendapatkan ojek online merupakan bentuk protes dari para mitra pengemudi terhadap potongan biaya aplikasi yang dianggap terlalu besar.

“Ini (krisis ojol) bentuk perlawanan kami protes mengenai potongan biaya aplikasi yang sangat besar sehingga sudah tidak dapat lagi ditolerir oleh rekan-rekan driver,” ujar Igun dikutip fajar.co.id, Minggu (15/3/2026).

Menurutnya, sikap tersebut dilakukan dalam bentuk protes diam atau silent treatment.

“Karena pihak pemerintah hingga saat ini tidak juga memberikan keputusan konkret mengatur bagi hasil 90:10 persen, sehingga bentuk "silent treatment" protes diam kami yaitu salah satunya rekan-rekan driver mengabaikan orderan yang masuk,” tambahnya.

Potongan Aplikasi Disebut Terlalu Besar

Igun menjelaskan, secara ideal potongan aplikasi untuk mitra pengemudi seharusnya berada di kisaran 10 hingga 15 persen.

Namun dalam praktiknya di lapangan, potongan tersebut disebut bisa mencapai sekitar 50 persen dari total pendapatan driver.

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |