Abu Janda dan Prabowo.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Insiden pengusiran pegiat media sosial, Permadi Arya alias Abu Janda, dari program diskusi televisi Rakyat Bersuara terus menjadi pembicaraan publik.
Seperti diketahui, dalam program rakyat bersuara yang membahas dampak perang Timur Tengah, didatangkan berbagai narasumber, termasuk di antaranya Abu Janda sebagai aktivis pro Israel.
Kali ini, tanggapan datang dari Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Prof Henri Subiakto.
Ia mengatakan bahwa debat di ruang publik semakin kehilangan etika, terutama ketika diskusi berubah menjadi adu emosi.
Menurut Henri, kondisi seperti itu bahkan membuat dirinya sering menolak undangan untuk hadir sebagai narasumber di program televisi.
Enggan Hadir di Acara TV
Henri mengungkapkan bahwa dirinya kerap menolak undangan tampil di acara diskusi televisi karena cara sebagian narasumber berdebat dinilai tidak lagi menjunjung etika.
“Saya sering menolak datang ke acara TV karena sering narasumber yang diundang cara debatnya menggunakan omongan tanpa etika,” ujar Henri dikutip fajar.co.id, Rabu (11/3/2026).
Ia menegaskan, diskusi yang seharusnya menjadi ruang pertukaran gagasan justru sering berubah menjadi ajang saling serang secara verbal.
Debat Tanpa Etika Mengganggu Diskusi
Lebih lanjut, Henri menekankan bahwa sebagian narasumber kerap memaksakan pandangan tanpa memberi ruang bagi pihak lain untuk menyampaikan argumen berbeda.
Hal tersebut, menurutnya, justru mengganggu jalannya diskusi dan membuat waktu acara terbuang sia-sia.
“Kerap ngotot tidak memberi kesempatan pada yang punya pandangan berbeda,” Henri menuturkan.

















































