Jamu Naik Kelas di PIK 2, Kini Makin Dekat dengan Selera Anak Muda

4 hours ago 9
Di PIK 2, Tangerang menghadirkan konsep Jamu Experience Cafe sebagai cara baru menikmati jamu

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Jamu terus menemukan jalannya untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Jika dulu minuman herbal ini identik dengan racikan rumahan atau penjual jamu keliling, kini jamu hadir dengan pendekatan yang lebih segar dan akrab bagi generasi muda.

Di PIK 2, Tangerang, acaraki menghadirkan konsep Jamu Experience Cafe sebagai cara baru menikmati jamu. Bukan sekadar tempat membeli minuman, ruang ini juga menjadi titik pertemuan antara tradisi, pengetahuan herbal, dan gaya hidup urban yang terus bergerak.

Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono, mengatakan anak muda sebenarnya punya rasa ingin tahu yang besar terhadap jamu. Tantangannya bukan pada minat, melainkan pada cara memperkenalkannya.

“Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja. Melalui konsep Jamu Experience Cafe ini kami ingin memperlihatkan proses pembuatan jamu di depan pelanggan supaya mereka bisa mengetahui dan mengikuti proses tersebut,” ujar Jony Yuwono.

Menurut Jony, pendekatan tersebut dipilih agar jamu tidak terasa berjarak. Pengunjung bisa melihat langsung proses racik, mengenal bahan yang digunakan, lalu memilih rasa yang paling nyaman bagi mereka.

Pilihan menunya juga dibuat lebih fleksibel. Beras kencur dapat dipadukan dengan susu, kunyit asam dikreasikan dengan es krim, daun kelor diolah dengan teknik seperti matcha, dan jahe tampil dengan metode Vietnam drip. Semua itu dirancang agar jamu lebih mudah diterima oleh lidah generasi sekarang.

“Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup,” ungkap Jony.

Ia juga menilai jamu tidak harus tampil kaku untuk bisa diterima pasar yang lebih luas.

“Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jambu. Artinya apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silahkan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silahkan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” jelas Jony.

Antusiasme itu dirasakan langsung oleh Dimas Aryaputra (25), seorang pekerja kreatif yang mengaku bukan penikmat jamu sejak kecil. Ia datang ke gerai tersebut karena penasaran setelah melihat konsepnya di media sosial.

“Awalnya saya kira ini cuma tempat yang estetik saja. Tapi begitu lihat proses raciknya dan coba langsung, saya jadi paham kenapa jamu bisa dibawa ke gaya hidup sekarang. Saya pilih vanila twilight dan ternyata rasanya enak, ringan, tidak semenyeramkan bayangan saya soal jamu,” kata Dimas.

Ia mengaku selama ini lebih akrab dengan minuman kafe seperti kopi atau non-coffee. Karena itu, pengalaman mencoba jamu modern memberi kesan yang cukup kuat.

“Yang bikin saya excited itu ternyata jamu bisa terasa sangat approachable. Buat orang yang sama sekali enggak punya latar belakang minum jamu seperti saya, ini jadi pintu masuk yang nyaman. Setelah ini saya malah jadi ingin coba varian jahe dan moringa,” ujarnya.

Di sisi lain, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyebut inovasi seperti ini penting untuk membuka jalan baru bagi jamu Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan produk berbasis bahan alam harus tetap berpijak pada standar keamanan dan mutu.

“Setiap pagi, saya rutin mengonsumsi jamu jahe. Sebuah kebiasaan yang mencerminkan keyakinannya bahwa budaya minum jamu adalah tradisi baik yang tidak boleh hilang dan harus diwariskan,” tambah Taruna.

Dengan kekayaan sekitar 30.000 spesies tanaman herbal, Indonesia dinilai punya modal yang besar untuk mengembangkan jamu ke level yang lebih tinggi. Namun, peluang itu perlu dibarengi pendekatan ilmiah dan kepatuhan regulasi agar kepercayaan publik terus terjaga.

“Cafe Jamu Indonesia menjadi simbol bahwa jamu tidak sedang ditinggalkan zaman, ia justru sedang menemukan jalannya. Dari warisan leluhur, jamu melangkah ke masa depan kesehatan global, membawa cerita tentang budaya, sains, dan kreativitas Indonesia yang terus bergerak maju,” tutup Taruna.

Hadirnya konsep seperti ini menegaskan satu hal: jamu tidak kehilangan tempat di tengah generasi muda. Ia hanya sedang mencari bahasa baru, dan di PIK 2, bahasa itu tampaknya mulai ditemukan. (Pram/fajar)

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |