Iming-iming Untung Besar MBG, Ahok: Masa Gue Ikutan?

2 hours ago 2
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (foto: Instagram @basukibtp)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, mengungkap pengalaman tak biasa yang ia alami terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto.

Pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku sempat ditawari membuka dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Tidak tanggung-tanggung, tawaran tersebut disebut disertai potensi keuntungan yang cukup besar.

“Ada yang lebih lucu lagi. Orang nawarin gue. Lu mau gak buka dapur untuk makan gizi? Bergizi Gratis,” ujar Ahok dikutip fajar.co.id, Sabtu (21/2/2026).

Menurutnya, pihak yang menawarkan bahkan menyebut proyek tersebut akan dibuka secara masif dan menjanjikan dari sisi bisnis.

“Nawarin gua untungnya lumayan loh, dia bilang gini. Ini kita mau buka banyak ini,” ucapnya.

Meski demikian, Ahok mengaku heran mengapa dirinya yang selama ini vokal mengkritik sejumlah kebijakan justru ditawari terlibat.

“Itu gue bilang, lo gimana? Kenapa lo gak pernah lihat gue ngoceh-ngoceh?," katanya.

Ia menegaskan bahwa dirinya selama ini kerap menyuarakan kritik terhadap proyek-proyek yang dinilai bermasalah.

“Gue paling marah itu soal proyek itu, gue bilang. Masa gue mau ngomongin gitu?," tukasnya.

Ahok juga menampik anggapan bahwa ia tertarik karena alasan ekonomi.

“Ya gue gak miskin-miskin amat juga lah,” imbuhnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa penolakannya didasari prinsip.

“Kita juga gak sehinah itu loh. Kita protes kenapa kita mesti ikutan,” tegasnya.

MBG Kembali Disorot

Program MBG belakangan kembali menjadi perbincangan setelah ratusan siswa SMA di Kudus, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan makanan.

Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, turut menyoroti respons sebagian pendukung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, dalam menyikapi insiden tersebut.

“Setiap kali terjadi keracunan makanan setelah menyantap MBG, para termul langsung keluar dari sarang, refleks membela tanpa mikir,” kata Herwin kepada fajar.co.id, Senin (2/2/2026) lalu.

Ia menilai narasi pembelaan yang muncul selalu seragam dan cenderung menyalahkan dapur atau SPPG semata.

“Narasinya selalu sama dan diulang seperti kaset rusak, bukan programnya yang salah, cuma dapurnya (SPPG) yang kurang pengawasan,” sesalnya.

Herwin menegaskan bahwa MBG merupakan satu sistem yang tidak bisa dipisah-pisahkan ketika terjadi persoalan.

“Padahal ini logika kelas remedial. SPPG, BGN, distribusi, hingga penerima itu satu ekosistem,” tegasnya.

“Satu paket. Satu program. Tidak bisa dipreteli seenaknya pas gagal,” lanjutnya.

Menurutnya, jika pengawasan lemah atau dapur bermasalah, hal itu tetap menjadi bagian dari tanggung jawab program secara keseluruhan.

“Kalau dapurnya bermasalah, itu kegagalan desain dan pengawasan program. Kalau pengawasan lemah, itu tanggung jawab program. Kalau rakyat keracunan, itu akibat program,” imbuh Herwin.

BGN Siapkan Sanksi

Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan evaluasi terus dilakukan. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan SPPG yang terbukti melanggar prosedur akan dikenai sanksi.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |