Menu MBG pada bulan Ramadhan lalu ramai dihujat publik karena dinilai tidak sesuai anggaran.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi unggulan Presiden Prabowo Subianto tidak henti-hentinya menjadi perdebatan publik.
Polemik tata kelola program tersebut terus bermunculan, bahkan di tengah penegasan Presiden bahwa MBG tetap berjalan meskipun sejumlah pos anggaran mengalami efisiensi, termasuk kebijakan sekolah daring.
Pegiat media sosial, Ferry Koto, menganggap kritik terhadap program MBG sah-sah saja.
Hanya saja, ia mengingatkan agar kritik tidak disertai narasi yang dinilai berlebihan atau tidak berdasar.
“Kritik saja, tapi jangan mengarang bebas juga,” ujar Ferry dikutip fajar.co.id, Selasa (24/3/2026).
Tujuan MBG untuk Penerima Manfaat
Loyalis Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024 ini menegaskan, sejak awal tujuan program MBG sudah jelas, yakni memberikan manfaat langsung kepada penerima, khususnya anak sekolah.
Jika merujuk pada penekanan Presiden, program tersebut menurutnya bukan untuk memperkaya pihak tertentu.
“Manfaat MBG jelas tujuannya untuk penerima manfaat, di antaranya anak sekolah. Bukan memperkaya mitra. Itu arah jelas dari Presiden,” ucapnya.
Ditegaskan Ferry, arah kebijakan Presiden Prabowo terkait MBG tidak bermasalah. Justru persoalan muncul pada tahap pelaksanaan di lapangan.
Tata Kelola BGN Dicap Biang Kerok
Ferry secara khusus menyinggung tata kelola program MBG yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN).
Ia menyebut sistem yang dibangun saat ini masih menyisakan persoalan yang berpotensi memicu polemik.
“Namun, tata kelola program MBG yang dibuat BGN ini memang bermasalah,” timpalnya.
Kata Ferry, jika tata kelola tidak segera diperbaiki, program tersebut berpotensi melenceng dari tujuan awal dan membuka ruang penyimpangan.


















































