Dokter Tifa diapit oleh Rocky Gerung dan Faldo Maldini.
Fajar.co.id, Jakarta – Dokter Tifauzia Tyassuma, yang akrab disapa Dokter Tifa, menyoroti pola berulang dalam menghadapi pengungkapan kebenaran yang dianggap sensitif oleh penguasa. Menurutnya, pola tersebut bukan hanya terjadi di satu negara atau satu zaman, melainkan strategi klasik ketika suatu kebenaran mulai menyentuh titik kritis.
“Dalam sejarah pertarungan antara kebenaran dan kebohongan penguasa, pola ini selalu terulang,” ujar Dokter Tifa, dikutip dari keterangannya di media sosial, Selasa (31/3/2026).
Menurut Dokter Tifa, tahapan pola tersebut dimulai dari persuasi atau bujukan, kemudian berlanjut ke ancaman—baik fisik, non-fisik, maupun metafisik. Jika belum berhasil, maka masuk ke tahap risakan atau penghancuran kredibilitas (character assassination).
“Yang diserang bukan lagi substansinya, melainkan orang yang berani mengungkapkannya. Mereka gali kelemahan atau kesalahan masa lalu—siapa yang tak punya?—atau bahkan membentuk fitnah baru jika tidak ada,” jelasnya.
Dokter Tifa mencontohkan pola ini terlihat dalam kasus yang menimpa dirinya, Roy Suryo, dan Rismon Sianipar terkait riset ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo. Ia menegaskan bahwa perhatian publik sengaja digeser dari substansi hukum dan data ilmiah ke isu pribadi serta sensasi.
“Dari hukum ke pribadi, dari substansi ke sensasi, dari kebenaran ke persepsi. Isu personal dimunculkan, label dilemparkan, cerita dan fitnah terus dijejalkan agar publik tidak lagi fokus pada fakta,” tambahnya.
Dia juga menyinggung bukti-bukti yang telah disampaikan, termasuk keterangan 22 ahli, 127 saksi, dan 709 dokumen pendukung, serta pernyataan ahli Artificial Intelligence Dr. Ing. Ridho Rahmadi yang menilai riset tersebut sebagai penelitian ilmiah yang memenuhi standar.


















































