Menu MBG berupa kelapa utuh sempat jadi sorotan tajam publik.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Politisi Sarwandi Eka Sarbini membantah pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Terkait dengan klaim anggaran pendidikan tidka dipangkas untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kritik itu ia sampaikan melalui unggahan di akun media sosial pribadinya. Dalam unggahannya, Sarwandi menilai pernyataan itu menutupi fakta di sebenarnya.
“Anggaran Pendidikan katanya tidak diambil untuk MBG bahkan ditingkatkan, kata Menteri Pendidikan Kabinet Merah Putih,” tulis Sarwandi dikutip Sabtu (21/2/2026) dari unggahannya di Facebook.
Dia membandingkan anggaran pendidikan pada 2024 dan 2026. Menurutnya, pada 2024 anggaran pendidikan mencapai Rp665 triliun tanpa MBG, sementara pada 2026 totalnya Rp769,1 triliun termasuk Rp223 triliun untuk MBG.
“Ketika ada MBG yang sekarang Anggaran Belanjanya 315T Tahun 2026, dan mengambil 223T dari Anggaran Pendidikan dari 769,1T,” tulisnya lagi.
Sarwandi menilai, jika komponen MBG dikeluarkan, maka anggaran pendidikan inti justru mengalami penurunan. Dia menyebut selisih anggaran menunjukkan adanya pengurangan untuk sektor pendidikan murni.
“Itu artinya jelas mengambil anggaran Pendidikan dan mengurangi anggaran seharusnya,” tegasnya.
Dia juga melontarkan kritik keras kepada para pendukung kebijakan pemerintah di media sosial. Sarwandi menilai banyak pihak yang ikut menyebarkan informasi yang menurutnya tidak sesuai fakta.
“Jangan berbohong, apalagi para buzzer dan pemilik dapur ikut-ikutan share pernyataan Mendisdakmen,” tulisnya.
Sarwandi juga memaparkan data tren anggaran pendidikan sejak 2019 hingga 2026. Ia menyebut anggaran pendidikan meningkat stabil hingga 2024, lalu melemah jika komponen BGN dikeluarkan pada 2026.
Menurut perhitungannya, tanpa anggaran Badan Gizi Nasional, pendidikan inti pada 2026 hanya sekitar Rp545 triliun. Angka itu lebih rendah dibanding 2023 dan 2024 yang masing-masing berada di atas Rp600 triliun.
Dia menilai kondisi tersebut menunjukkan perubahan arah kebijakan. Sarwandi menyebut anggaran yang sebelumnya fokus pada pendidikan, kini dialihkan ke program lain.
“Jangan membodohi netizen dengan info hoax,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Dia menegaskan bahwa kritiknya didasarkan pada data APBN. Ia meminta pemerintah lebih terbuka dalam menjelaskan komposisi anggaran kepada publik.
“Secara substansi komposisi, tanpa BGN, anggaran pendidikan inti lebih kecil dibanding 2024. Yang trennya naik terus dari 2019 hingga 2024, dan menurun 2025 & 2026,” paparnya.
Sarwandi berharap polemik ini menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, pendidikan seharusnya tetap menjadi prioritas utama dalam pembangunan nasional.
“Jadi jelas mengambil anggaran pendidikan yang lebih tinggi sebelum Kabinet ini, seolah2 tidak mengambil padahal menurunkan anggaran pendidikan. Ya sama saja,” pungkasnya.
Klaim Mendikdasmen
Abdul Mu’ti sendiri mengaku tak ada dana pendidikan dipangkas untuk MBG.
“Kalau ada anggapan bahwa MBG mengurangi anggaran pendidikan, kami sampaikan dengan tegas bahwa itu tidak benar. Program Presiden terkait pendidikan tetap terlaksana dengan sebaik-baiknya,” ujar Mu'ti dalam keterangannya dikutip Jumat (20/2/2026).
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































