Bantah Klaim Tak Ada Oplosan Pertamax, Kejagung: Ron 88 atau Premium Diblending dengan Ron 92

1 month ago 18
lustrasi. Skandal BBM Pertamina menyeret mafia migas yang mengoplos Pertalite menjadi Pertamax demi keuntungan besar. (Rama/KP)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Pada rapat dengan komisi XII DPR, PT Pertamina Patra Niaga mengakui adanya proses penambahan zat aditif pada BBM jenis Pertamax sebelum didistribusikan ke SPBU, Rabu (26/2/2025).

“Di Patra Niaga, kita terima di terminal itu sudah dalam bentuk RON 90 dan RON 92, tidak ada proses perubahan RON. Tetapi yang ada untuk Pertamax, kita tambahan aditif. Jadi di situ ada proses penambahan aditif dan proses penambahan warna,” ujar Pelaksana Tugas Harian (Pth) Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Mars Ega Legowo Putra.

Ega menekankan bahwa proses injeksi tersebut adalah proses umum dalam industri minyak. Tujuannya utamanya adalah untuk meningkatkan kualitas produk.

“Meskipun sudah dalam RON 90 maupun RON 92, itu sifatnya masih best fuel, artinya belum ada aditif,” ucap Ega.

Namun, Ega memastikan bahwa penambahan zat aditif yang dilakukan, bukan berarti terjadi pengoplosan Pertamax dengan Pertalite.

Sementara itu, Kejaksaan Agung (Kejagung) membantah pernyataan PT Pertamina Patra Niaga terkait klaim tak ada pengoplosan atau blending Pertamax dengan Pertalite.

Direktur Penyidik Jampidsus Kejaksaan Agung, Abdul Kohar menegaskan pihaknya bekerja dengan alat bukti.

"Tetapi penyidik menemukan tidak seperti itu. Ada RON 90 (Pertalite) atau di bawahnya 88 (premium) di-blending dengan 92 (Pertamax). Jadi RON denga ROn sebagaimana yang sampaikan tadi," katanya, Rabu (26/2/2025).

Kohar melanjutkan, temuan tersebut berdasarkan keterangan saksi yang diperiksa penyidik. Bahkan, kata dia, bahan bakar minyak (BBM) oplosan tersebut dijual dengan harga Pertamax.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |