Syekh Yusuf yang Tak Pernah Pergi dari Tanah Gowa

5 days ago 22
Gambar ilustrasi Syekh Yusuf. (INT)

Oleh: Desy Selviana
(Pustakawan)

Syekh Yusuf Al-Makassary, Tuanta Salamaka, telah lama wafat. Namun bagi masyarakat Gowa dan Takalar, ia tak pernah benar-benar pergi. Namanya terus hidup dalam doa, ziarah, dan ritual keagamaan yang masih dijalankan hingga kini. Syekh Yusuf bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan figur spiritual yang diyakini tetap hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pendukungnya.

Di Lakiung, Gowa, makam Syekh Yusuf hampir tak pernah sepi. Peziarah datang silih berganti untuk berdoa dan memohon berkah. Tradisi ini tidak berhenti meski zaman berubah. Bahkan di tengah pandemi Covid-19, ziarah tetap dilakukan, terutama oleh keturunan Syekh Yusuf yang tersebar di wilayah Gowa dan Takalar. Bagi mereka, Syekh Yusuf adalah bagian dari siklus hidup: disambangi sebelum dan sesudah berhaji, menjelang pernikahan, akikah, atau saat menghadapi persoalan hidup.

Kepercayaan akan kebesaran Syekh Yusuf berakar dari kisah kesufian dan perjalanan ilmunya. Ia dikenal sebagai ulama besar yang meninggalkan tanah kelahirannya untuk menuntut ilmu hingga ke Tanah Suci. Dalam ingatan kolektif masyarakat, Syekh Yusuf bukan hanya murid para ulama besar, melainkan sosok yang diakui karena kedalaman spiritual dan karamahnya.

Keyakinan itu tercermin dalam berbagai ritual yang masih bertahan, salah satunya ritual nazar. Ketika seseorang menghadapi musibah, kesulitan ekonomi, atau ketidakpastian hidup, nama Syekh Yusuf kerap dijadikan perantara doa. Nazar kemudian ditebus melalui ritual khusus yang diyakini mampu menghadirkan perlindungan dan keselamatan.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |