Sawit RI Bebas Tarif ke AS, Peta Dagang Global Berubah

4 days ago 17

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Dampak Ekonomi Tarif Nol AS: Devisa, Ekspor, dan Posisi Tawar RIKebijakan Amerika Serikat yang menetapkan tarif bea masuk nol persen untuk minyak kelapa sawit mentah (CPO) berpotensi memberi dampak ekonomi signifikan bagi Indonesia, khususnya dari sisi ekspor dan devisa.

Selama ini, ekspor sawit Indonesia ke AS relatif terbatas akibat tarif dan hambatan non-tarif. Data perdagangan menunjukkan nilai ekspor sawit dan turunannya ke AS masih kalah dibanding pasar Eropa dan Asia Selatan.

Dengan tarif nol persen, biaya masuk sawit Indonesia ke AS menjadi lebih kompetitif dibanding produk substitusi seperti minyak kedelai (soybean oil), yang selama ini dilindungi oleh kebijakan domestik AS.

Direktur PASPI Tungkot Sipayung menilai kebijakan ini membuka peluang lonjakan ekspor langsung.

“Jika hambatan tarif dihilangkan, maka margin keuntungan eksportir meningkat dan volume perdagangan berpotensi naik signifikan,” ujarnya.

Potensi Kenaikan Devisa

Sebagai gambaran, setiap kenaikan ekspor sawit sebesar 1 juta ton dengan harga rata-rata USD 800 per ton dapat menyumbang devisa sekitar USD 800 juta atau setara Rp12–13 triliun.

Jika pasar AS menyerap sebagian ekspor yang selama ini mengalir ke Eropa, Indonesia tidak hanya diuntungkan dari sisi volume, tetapi juga diversifikasi pasar, sehingga risiko tekanan regulasi Eropa seperti EUDR dapat ditekan.

Selain itu, peningkatan ekspor juga berdampak langsung pada:

  • pendapatan petani sawit,
  • serapan tenaga kerja,
  • penerimaan negara dari pungutan ekspor dan pajak.

Efek Domino ke Pasar Eropa

Kebijakan tarif nol AS secara tidak langsung menekan posisi tawar Uni Eropa. Selama ini Eropa memiliki leverage besar melalui regulasi keberlanjutan seperti EUDR.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Situasi Pemerintah | | | |