Donald Trump dan Piala Dunia. (Kolase Foto, dok.fajar)
Fajar.co.id, Amerika Serikat -- Euforia Piala Dunia 2026 memang sudah mulai terasa. Tapi di balik hiruk-pikuk persiapan, ada bayangan lain yang menggelayut: politik global atau geopolitik.
Kompetisi yang akan digelar di tiga negara Amerika Utara ini diprediksi bakal jadi ajang yang panas, bukan cuma karena persaingan di lapangan hijau, tapi juga karena tensi geopolitik yang ikut serta.
Trump, Katalisator Ketegangan di Luar Lapangan
Faktor utamanya? Amerika Serikat (AS). Di bawah kepemimpinan Donald Trump yang dikenal kontroversial dan suka menyulut sensasi, hubungan diplomatik dengan beberapa negara calon peserta sedang tidak baik-baik saja.
Belakangan, Trump agresif mengusik sekutu maupun lawan, terutama Iran, Kanada, dan Denmark. Nah, dari ketiganya, Iran dan Kanada sudah dipastikan tampil di putaran final nanti. Kanada sebagai tuan rumah, Iran sebagai wakil Asia.
Masalahnya, Iran harus memainkan sebagian laga di tanah AS. Sedangkan Denmark, yang masih berjuang lewat babak play-off, juga punya masalah sendiri.
Ketegangan dengan AS memuncak usai Trump berulang kali menyatakan minatnya untuk membeli Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark.
Sementara dengan Kanada, perseteruan terjadi soal perang tarif.
Iran? Mereka di ambang konflik terbuka dengan AS menyusul kisruh perjanjian nuklir.
Memang, belum tentu panasnya politik ini meledak jadi konflik nyata. Tapi atmosfernya sudah terasa.
Apalagi Trump dan pendukung garis kerasnya punya sejarah memanfaatkan ajang olahraga untuk pamer kekuatan dan citra. Jadi, waspadalah.
Denmark di Persimpangan: Berpeluang Lolos Kualifikasi, Tapi Ogah Berangkat?
Ini yang unik. Berbeda dengan Iran dan Kanada yang sudah pasti main, nasib Denmark masih menggantung di babak play-off.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

















































